Dampak Kerusakan Hutan

EFEK KERUSAKAN HUTAN HUJAN TROPIS

            Hutan hujan tropis memiliki banyak pohon yang besar-besar dan tinggi-tinggi serta berdaun lebar.  Di dalamnya juga terdapat berbagai macam bentuk hidup (lifeform), seperti herba, perdu, liana, dan pohon.  Selain itu, terdapat pula tumbuhan yang menempel pada tumbuhan lain (epiffit) baik yang bersifat mutualisme, parasitisme, dan komensalisme.  Seluruh tumbuhan yang terdapat di dalam hutan hujan tropis berperan dalam menjaga kelembaban udara baik dalam skala mikro maupun makro.  Hal tersebut menyebabkan suhu disekitar hutan menjadi rendah. Selain itu, hutan hujan tropis memiliki berbagai macam fungsi, diantaranya:

1.  Perlindungan

            Vegetasi tropis melindungi tanah dan energi yang merusak melalui presipitasi maupun angin.  Selain itu presipitasi dan angin dapat menyebabkan terjadinya erosi tanah.  Vegetasi tropis, termasuk hutan tropis dapat melindungi dan menjaga kondisi yang diperlukan bagi kehidupan banyak spesies tumbuhan dan hewan, terutama spesies endemik didaerah ini. Penutupan lahan oleh vegetasi rapat akan semakin memaksimumkan fungsi dan peran vegetasi bagi kehidupan organisme dalam lingkungan disekelilingnya.

            Sebagai fungsi perlindungan, hutan tropis secara umum mempunyai peranan yang penting antara lain:

a.  melindungi tanaman pertanian dari kekeringan, angin kencang dan radiasi berlebihan.

b.  melindungi tata guna lahan dan tata air.

c.  melindungi gangguan alamiah atau buatan, sperti suara bising, bau asap dan pencemaran lainnya.

d.  melindungi organisme sebagai habitat tempat hidup berbagai hewan.

2.  Pengaturan

            Kehadiran vegetasi secara alamiah akan mengatur siklus materi, seperti siklus hara dan siklus biogeokimia lainnya. siklus tersebut terjadi melalui proses penyerapan, penyimpanan, pengubahan, dan pelepasan kembali kedalam sistem tanaman.  Selain itu vegetasi mampu menyerap beberapa polutab udara dan meredam kebisingan.  Vegetasi juga menyerap, menyimpan dan melepaskan air sebagai salah satu unsur utama kehidupan kedalam sistem lengkungan.  Kehadiran vegetasi dapat juga mendinginkan suhu panas pada areal terbuka atau langsung mendapatkan sinar matahari.  Hal ini terjadi karena adanya proses penyerapan dan pengubahan energi radiasi panas tersebut.  Peran vegetasitersebut antara lain:

a   memperbaiki atmosfer pemukiman dan daerah rekreasi.

b   menurunkan suhu di daerah pemukiman .

c   memperbaiki nilai estetis dan bentang alam.

            Apabila hutan hujan tropis mengalami kerusakan maka fungsi tersebut dapat hilang.  Bahkan jika kerusakan terjadi secara total di banyak wilayah di seluruh dunia, maka dapat menyebabkan pemanasan global.

Pemanasan global merupakan kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer laut dan daratan di bumi.  Pemanasan global terjadi akibat aktivitas manusia, terutama dalam kegiatan yang berhubungan dengan hutan dan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta, pertanian dan peternakan (Sutanta 2007: 1).   Penggunaan bahan bakar fosil tersebut akan menghasilkan emulsi gas berupa gas rumah kaca (GRK) antara lain CO, CO2, CFC, NOx, SOx, dan sebagainya.  Peningkatan konsentrasi GRK menyebabkan efek rumah kaca berlebihan (lebih dari kondisi normal) di atmosfer bumi dan dapat menimbulkan pemanasan global.

Menurut Zalia & Oliver (2003:1), efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C.  Kecenderungan peningkatan gas rumah kaca yang tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5°C sekitar tahun 2030.  Meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer menyebabkan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi dan diserap atmosfer.  Hal tersebut akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.

Efek rumah kaca merupakan penyebab terjadinya pemanasan global, di mana peningkatan konsentrasi GRK di atmosfir dapat membentuk suatu selubung di lapisan stratosfer (La An 2007:1).  Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa.  Sinar tampak adalah gelombang pendek, setelah dipantulkan kembali akan  berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar inframerah), yang secara langsung dirasakan oleh manusia.  Sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa.  Hal tersebut disebabkan karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisi berlebihan).  Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas ke angkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan yang kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari kondisi normal.  Peristiwa tersebut merupakan efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu.  Efek rumah kaca akan memicu naiknya suhu rata-rata di permukaan bumi sehingga terjadi pemanasan global (Haneda 2004: 1).

Gas CO2 menyumbang 50% dari pemanasan global sedangkan gas CFCs, CH4, O3, dan NOx masing-masing menyumbang lebih kurang 20%, 15%, 8% dan 7% bagi pemanasan global (La An 2007:1).  Bumi secara konstan menerima energi, kebanyakan dari sinar matahari tetapi sebagian juga diperoleh dari bumi itu sendiri, yaitu melalui energi yang dibebaskan dari proses radioaktif berupa sinar tampak dan sinar ultraviolet yang dipancarkan dari matahari.  Radiasi sinar tersebut sebagian dipantulkan oleh atmosfer dan sebagian sampai di permukaan bumi.  Sebagian radiasi sinar tersebut di permukaan bumi ada yang dipantulkan dan ada yang diserap oleh gas CO2 di atmosfer bumi dan menghangatkannya (Campbell dkk. 1999: 22).

Karbondioksida (CO2) merupakan gas yang dapat menyerap energi panas dari radiasi matahari yang diserap oleh bumi dalam bentuk gelombang infra merah dan gelombang panas.  Hal tersebut menyebabkan kondisi bumi menjadi hangat.  Peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer dapat memberikan dampak secara langsung terhadap organisme tertentu, misalnya pada tumbuhan dengan kadar air dan cahaya matahari yang berlebih akan memanfaatkan CO2 tersebut untuk proses fotosintesis.  Proses fotosintesis oleh tumbuhan dapat mengkonfersi CO2 di atmosfer menjadi O2.  Secara tidak langsung peningkatan konsenrasi CO2 di atmosfer memberikan dampak yang positif, akan tetapi jumlah CO2 yang terlalu banyak dan tidak sebanding dengan jumlah tumbuhan yang ada di bumi maka akan mengarah kepada terjadinya pemanasan global (Brewer 1994: 679).

Menurut  Tantri (2007:1),  Indonesia merupakan negara keempat di dunia yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global.  Hal tersebut dikarenakan penurunan jumlah tumbuhan yang drastis akibat adanya eksploitasi hutan yang tidak bertanggung jawab.  Illegal logging merupakan masalah yang sedang marak dihadapi oleh Indonesia, dan masalah tersebut dapat menimbulkan masalah lain yang lebih besar dengan dampak di seluruh dunia yaitu pemanasan global.

Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi.  Hal tersebut akan mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer.  Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut.  Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar (Tantri 2007: 1).

DAFTAR ACUAN

Brewer, R. 1994. The science of ecology. Suenden College Publishing. New York: xviii + 789 hlm.

Campbell, N.A., J.B. Reece & L.G. Mitchell. 1999. Biologi. Terj. dari: Biology, oleh Lestari, R., E.I.M.// Adil, N. Anita, Andri, W.F. Wibowo, & W. Manalu. Erlangga, Jakarta: xxi + 438 hlm.

Haneda. 2004. Hubungan efek rumah kaca pemanasan global dan perubahan iklim.

La An. 2007. Pemanasan global: 1 hlm. ?. http://www.fokushimti.com. 9 November 2007. pk. 19.27 WIB.

Sutanta, H. 2007. Pemanasan global turunkan kesehatan manusia: 1 hlm. 15 Mei 2007. http://www.beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=767.  9 November 2007. pk. 21.07 WIB.

Tantri, D. 2007. Indonesia rentan dampak perubahan iklim: 1 hlm. 26 April 2007. http://www.myjournals.com. 9 November 2007. pk. 19.35 WIB.

Zalia & Olivier. 2003. Pemanasan global: 1 hlm. ?. http://www.astronomes.com/m1_solaire/m134_pemanasan.html.  9 November 2007. pk. 19.30 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: